METOPEN-Statistik 5
Nama : Aurelia Apriliyani
NIM/OFF : 250321803931/A25
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Kuantitatif
Tugas : Review Artikel ke-15 (Statistik 5: Analisis Varian (uji prasyarat,
ANOVA dan non parametrik yang relevan)
|
Novelty Artikel |
Kebaruan
artikel ini terletak pada integrasi perspektif social learning dan communities
of practice dalam membandingkan pengalaman mahasiswa antara in-person physics laboratories dan asynchronous remote laboratories pada skala besar.
Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung berfokus pada aspek
kognitif atau hasil akademik, artikel ini mengeksplorasi dimensi social connections, student–student learning perspectives, student–instructor interactions, dan physics laboratory self-efficacy. Dari
sisi metodologi, kombinasi factor analysis,
reliability testing, one-way ANOVA, Welch ANOVA, serta correlation
dan partial correlation analysis
menjadikan penelitian ini komprehensif dan memberikan kontribusi signifikan
terhadap penelitian PER (Physics Education Research) dalam konteks
pembelajaran daring selama pandemi. |
|
Keterlamaan Artikel |
Penelitian
menggunakan desain quasi-experimental
nonequivalent groups, sehingga tidak ada random assignment dan
berpotensi menimbulkan selection bias.
Data berasal dari satu institusi saja, sehingga generalisasi hasil tidak
dapat diperluas secara luas. Pengambilan data bersifat cross-sectional sehingga tidak dapat menggambarkan
dinamika perubahan persepsi mahasiswa selama semester berlangsung. Artikel
juga tidak melaporkan normality testing
secara eksplisit, meskipun menggunakan ANOVA yang memerlukan asumsi
normalitas residual. Selain itu, tidak ada penggunaan uji non-parametric (misalnya Kruskal–Wallis)
sebagai alternatif ketika asumsi normalitas atau homoskedastisitas tidak
terpenuhi; analisis hanya mengandalkan Welch
ANOVA ketika varians tidak homogen. |
|
Abstrak |
Penelitian
ini bertujuan mengevaluasi pengalaman sosial dan self-efficacy mahasiswa dalam mengikuti physics laboratory secara in-person maupun
remote. Sampel terdiri dari 697 mahasiswa yang dibagi menjadi tiga kelompok: in-person, remote-connector, dan remote-isolated.
Instrumen terdiri dari 32 item Likert yang telah divalidasi melalui factor analysis (KMO = 0.92) dan
reliabilitas tinggi. Analisis meliputi one-way
ANOVA, Welch ANOVA (ketika
varians tidak homogen), serta Pearson
correlation dan partial correlations.
Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa in-person memiliki student–student social learning, student–instructor interaction, dan laboratory self-efficacy yang lebih tinggi dibanding
kelompok remote. Studi ini menyarankan bahwa laboratorium remote perlu
strategi khusus untuk membangun interaksi sosial dan dukungan instruksional. |
Analisis
/ Review Kritis
|
Judul |
Working
together or alone, near, or far: Social connections and communities of
practice in in-person and remote physics laboratories |
|
Penulis |
Drew
J. Rosen & Angela M. Kelly |
|
Nama Jurnal |
Physical
Review Physics Education Research (PRPER), 2022 |
|
Tujuan
penelitian |
1.
Menganalisis
tingkat social connections yang terbentuk di antara mahasiswa baik
pada in-person maupun remote physics laboratory settings. 2.
Mengevaluasi
hubungan antara mode of instruction dengan physics laboratory
self-efficacy dan social learning factors. |
|
Metode |
Desain: Quasi-experimental, nonequivalent groups, survei
cross-sectional. Sampel:
697 mahasiswa (in-person, remote-connector, remote-isolated). Instrumen:
32 item Likert; diuji melalui factor analysis (oblimin), KMO tinggi,
reliabilitas Cronbach’s α > 0.85. Analisis: 1.
Factor analysis untuk validasi konstruk. 2.
Uji prasyarat homogenitas varians (Levene). 3.
ANOVA jika varians homogen; Welch ANOVA jika varians
tidak homogen. 4.
Post-hoc Tukey atau Games-Howell sesuai kondisi. 5.
Korelasi Pearson dan partial correlations. Catatan Statistik
1.
Uji prasyarat
yang dilaporkan: Levene (homogenitas varians). 2.
ANOVA: digunakan ketika asumsi
varians terpenuhi. 3.
Welch ANOVA: digunakan ketika varians
tidak homogen. 4.
Normalitas:
tidak dilaporkan secara eksplisit. 5.
Non-parametrik:
tidak digunakan, tidak ada Kruskal–Wallis atau Mann–Whitney. |
|
Hasil |
1.
Terbentuk
tiga faktor yang valid dan reliabel: student–student social learning,
student–instructor social learning, dan self-efficacy. 2.
Terdapat
perbedaan signifikan antara kelompok in-person dan remote pada sebagian besar
faktor sosial dan self-efficacy. 3.
Mahasiswa
remote-isolated menunjukkan nilai sosial dan interaksi yang paling rendah. 4.
Interaksi
instruktur terbukti menjadi prediktor kuat terhadap self-efficacy |
|
Implikasi |
Studi ini memperlihatkan bahwa pembelajaran laboratorium fisika tidak
hanya bergantung pada konten eksperimen, tetapi juga lingkungan sosial. Pada
mode remote, diperlukan intervensi desain pengajaran seperti peningkatan
interaksi instruktur, forum diskusi terstruktur, dan penyediaan ruang
kolaborasi sinkron untuk membangun komunitas belajar yang lebih kuat. |
|
Kata Kunci |
Remote laboratories, social learning, communities of practice,
self-efficacy, ANOVA, physics education. |
|
Kesimpulan |
Mode
pembelajaran in-person memberikan pengalaman sosial dan self-efficacy yang
lebih baik dibanding mode remote. Tanpa desain instruksional yang tepat,
mahasiswa remote cenderung kesulitan membangun komunitas belajar yang kuat.
Meskipun demikian, studi ini memberikan arah pengembangan desain laboratorium
remote yang mempertimbangkan aspek sosial sebagai komponen penting. |
|
Metode
(Kajian) |
GAP
(Celah Penelitian) |
Hasil
Penelitian |
Keterbatasan
Penelitian |
Keterbaruan
(Novelty) |
|
- Quasi-experimental nonequivalent
groups. - Sampel 697 mahasiswa tiga kategori (in-person, remote-connector,
remote-isolated). - Instrumen: 32 item, factor analysis, reliabilitas tinggi.
- Analisis: Levene, ANOVA, Welch ANOVA, post-hoc, Pearson & partial correlations. |
- Minimnya studi yang
membandingkan pengalaman sosial laboratorium fisika antara in-person dan
remote. - Belum ada penelitian skala besar yang menghubungkan jejaring
sosial, interaksi instruktur, dan self-efficacy. |
- Ada perbedaan signifikan antara
in-person dan remote pada faktor sosial & self-efficacy. - Interaksi
instruktur menjadi prediktor penting self-efficacy. - Mahasiswa
remote-isolated memiliki nilai terendah. |
- Nonrandom assignment → bias
seleksi. - Satu institusi; tidak dapat digeneralisasi luas. - Tidak ada uji
normalitas eksplisit. - Tidak menggunakan non-parametrik meski sampel tidak
seimbang. |
- Integrasi analisis jejaring
sosial dan self-efficacy dalam konteks laboratorium fisika. - Penggunaan
kombinasi factor analysis dan ANOVA/Welch pada studi skala besar. |
Sources ; https://journals.aps.org/prper/pdf/10.1103/PhysRevPhysEducRes.18.010105
Comments
Post a Comment