(Isu lokal: air, energi, sampah, pangan, kesehatan → keterkaitan SDGs)

 

Nama : Aurelia Apriliyani
NIM/OFF : 250321803931/A
Mata Kuliah : Pembangunan Berkelanjutan untuk Masyarakat
 Tugas : Review Artikel ke-3 (Isu lokal: air, energi, sampah, pangan, kesehatan → keterkaitan SDGs)

Novelty Artikel

Artikel karya C.H. Gebara dan A. Laurent (2023) ini menawarkan kerangka penilaian baru untuk mengukur performa SDG-7 (sustainable energy for all) di tingkat nasional. Kebaruan utamanya adalah menggabungkan 29 indikator yang mencakup dimensi lingkungan, sosial, dan tekno-ekonomi, serta menambahkan perspektif absolute sustainability berbasis planetary boundaries. Sebelumnya, penilaian SDG-7 hanya bersifat relatif (perbandingan tren dari tahun ke tahun), sementara artikel ini memungkinkan melihat apakah suatu negara benar-benar sudah berada dalam batas keberlanjutan. Selain itu, studi ini menerapkan pendekatan multi-regional input-output (MRIO) modelling untuk menurunkan jejak lingkungan sektor energi, suatu integrasi yang jarang dilakukan pada kajian SDG.

Keterlamaan Artikel

Keterlamaan artikel ini ada pada keterbatasan data dan generalisasi. Beberapa indikator (tier C) masih belum bisa dioperasionalisasikan karena keterbatasan data global. Selain itu, penelitian ini hanya menggunakan data tahun 2018, sehingga tidak menangkap dinamika perubahan jangka panjang. Fokus studi juga lebih pada skala negara (176 negara) sehingga kurang menyoroti konteks lokal atau sektoral yang lebih detail, misalnya pada penerapan teknologi energi spesifik. Bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan fisika, artikel ini belum menyentuh aspek pedagogis meskipun banyak konsep fisika yang tersirat dalam pembahasan energi.

 

Analisis / Review Kritis

 

Judul

National SDG-7 performance assessment to support achieving sustainable energy for all within planetary limits

Penulis

C.H. Gebara, A. Laurent

Nama Jurnal

Renewable and Sustainable Energy Reviews, Vol. 173, 2023.

Abstrak :
Artikel ini menyajikan kerangka penilaian baru untuk SDG-7 melalui 29 indikator yang meliputi aspek sosial, tekno-ekonomi, dan lingkungan. Studi ini diterapkan pada 176 negara dengan pendekatan berbasis absolute sustainability thresholds yang diturunkan dari konsep planetary boundaries. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun negara yang sepenuhnya beroperasi secara berkelanjutan pada indikator SDG-7, meskipun ada variasi performa antar negara. Negara berpenghasilan tinggi umumnya unggul pada indikator sosial-ekonomi tetapi buruk pada indikator lingkungan, sedangkan negara berpenghasilan rendah sebaliknya. Temuan ini memberi dasar ilmiah baru bagi pembuat kebijakan dalam merancang strategi transisi energi yang adil dan berkelanjutan.

Tujuan penelitian

1.      Mengidentifikasi kesenjangan dalam indikator SDG-7 yang ada.

2.      Mengembangkan kerangka baru yang mengintegrasikan indikator sosial, ekonomi, dan lingkungan.

3.      Menilai performa SDG-7 pada tingkat negara dengan perspektif absolut berbasis planetary limits.

4.      Memberikan bukti kuantitatif untuk mendukung kebijakan energi berkelanjutan.

Metode

Penelitian ini menggunakan:

1.       Critical literature review untuk mengidentifikasi 154 indikator SDG-7 dari literatur, lalu disaring menjadi 29 indikator.

2.       Modelling dengan MRIO (Multi-Regional Input-Output) untuk menghitung jejak lingkungan sektor energi, termasuk emisi gas rumah kaca, penggunaan air, penggunaan lahan, dan polusi.

3.       Downscaling planetary boundaries ke level nasional dengan prinsip distribusi (egalitarian, utilitarian, prioritarian, acquired rights).

4.       Analisis dilakukan untuk tahun 2018 dengan cakupan 176 negara.

Hasil

1.      Tidak ada negara yang sepenuhnya berkelanjutan pada SDG-7.

2.      Negara maju (Eropa, Amerika Utara) unggul dalam akses energi dan efisiensi, tetapi sangat buruk pada jejak lingkungan (misalnya jejak karbon, polusi udara).

3.      Negara berkembang (Afrika, Asia) masih rendah dalam akses energi, tetapi beberapa indikator lingkungan relatif masih dalam batas berkelanjutan.

4.      Indikator kritis yang paling banyak dilanggar adalah climate change footprint, particulate matter, acidification, dan fossil resource scarcity.

5.      Artikel mengusulkan target baru: SDG-7.4 “Ensure environmentally sustainable energy systems” untuk menutup celah indikator yang ada.

Implikasi

1.      Bagi pembuat kebijakan: framework ini bisa digunakan untuk memprioritaskan “hotspot” energi yang perlu ditangani di tiap negara.

2.      Bagi penelitian: membuka ruang untuk memperluas indikator absolut ke SDG lain.

3.      Bagi pendidikan, khususnya fisika: artikel ini relevan karena banyak indikator yang dibangun dari konsep dasar fisika (energi, daya, efisiensi, emisi, radiasi). Misalnya, energi intensitas (MJ/USD) terkait langsung dengan hukum termodinamika, jejak radiasi terkait dengan fisika nuklir, serta jejak partikel (PM2.5) bisa dijelaskan dengan konsep dinamika fluida dan mekanika partikel. Hal ini membuka peluang integrasi pembahasan SDGs ke dalam kurikulum fisika melalui pendekatan project-based learning.

Kata Kunci

SDG-7, Sustainability assessment, Energy systems, Planetary boundaries, Indicators.

 

Kesimpulan

Artikel ini memberikan kontribusi signifikan dalam penilaian kinerja SDG-7 dengan pendekatan indikator absolut. Hasilnya menunjukkan bahwa dunia masih jauh dari target energi berkelanjutan, dengan tantangan besar pada sisi lingkungan. Walaupun terbatas pada data global dan belum mengaitkan aspek pendidikan, artikel ini penting sebagai referensi metodologis. Bagi mahasiswa fisika, artikel ini memperlihatkan bagaimana konsep dasar fisika (energi, entropi, radiasi, konservasi massa dan energi) diaplikasikan dalam penilaian keberlanjutan, sehingga dapat dijadikan contoh nyata integrasi fisika dalam isu-isu global.



Metode (Kajian)

GAP (Celah Penelitian)

Hasil

Keterlamaan

Novelty

Kajian literatur kritis (154 indikator) + MRIO modelling + downscaling planetary boundaries ke level negara

Indikator SDG-7 yang ada hanya fokus aspek sosial-ekonomi, belum menyertakan indikator lingkungan berbasis batas planet

Tidak ada negara yang sepenuhnya berkelanjutan; negara maju lebih buruk pada indikator lingkungan, negara berkembang lebih buruk pada akses energi

Data terbatas (2018), beberapa indikator belum operasional; belum eksplorasi aspek pendidikan

Integrasi indikator absolut berbasis planetary boundaries; usulan target baru SDG-7.4; penggunaan MRIO modelling untuk energi


Sources ; https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1364032122008152

Comments

Popular posts from this blog

METOPEN- Validitas dan Realibilitas (review artikel ke-7)

METOPEN-Statistik 5

(review) artikel 1; Hakekat penelitian pendidikan: Peran penelitian pendidikan, isu-isu epistemologi dalam penelitian pendidikan: modernism (positivisme) dan posmodernism (post-positivisme)