review artikel ke-2 tentang Teori Belajar Sains di dalamnya

Nama: Aurelia Apriliyani
NIM: 250321803931
Prodi: Pendidikan Fisika
Mata Kuliah: Pembangunan Berkelanjutan untuk Masyarakat

Judul Artikel : Physics Education and Sustainable Development: A Study of Energy in a Glocal Perspective in an Angolan Initial Teacher Education School
Penulis: Gilberto Malavoloneque & Nilza Costa (2022)

Review Artikel :

Artikel ini berfokus pada keterkaitan pendidikan fisika dengan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam konteks energi. Penelitian dilakukan di Angola, sebuah negara berkembang yang menghadapi tantangan besar dalam transisi energi. Angola masih sangat bergantung pada energi fosil, sementara potensi energi terbarukan seperti energi surya dan biomassa belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam situasi ini, pendidikan, terutama pendidikan fisika, dipandang sebagai sarana strategis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap energi terbarukan dan pentingnya tindakan berkelanjutan.

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus (case study) pada program pendidikan calon guru fisika dengan jumlah peserta 39 siswa, 4 guru, dan 1 koordinator. Data diperoleh melalui analisis dokumen kurikulum, kuesioner siswa, laporan guru, wawancara, dan diskusi kelompok. Untuk memperkuat temuan, peneliti juga melakukan studi eksploratif (exploratory study) satu tahun kemudian dengan fokus pada diskusi kelompok guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pengajaran fisika masih didominasi oleh pendekatan tradisional, berfokus pada aspek matematis dan teoritis tanpa menautkannya dengan realitas sosial maupun konteks energi berkelanjutan. Siswa memang mengetahui konsep dasar energi, namun mereka tidak memiliki pemahaman mendalam tentang potensi energi terbarukan di lingkungan sekitar mereka. Setelah dilakukan intervensi, beberapa guru mulai menunjukkan pergeseran pendekatan menuju pembelajaran yang lebih kontekstual, meskipun prosesnya masih terbatas.

Dari perspektif teori belajar sains, artikel ini merepresentasikan penerapan konstruktivisme secara implisit. Dalam konstruktivisme, pengetahuan tidak ditransmisikan secara pasif, melainkan dibangun aktif melalui pengalaman dan konteks. Upaya peneliti untuk mengaitkan konsep energi dengan realitas lokal (glocal perspective) sejalan dengan prinsip ini. Siswa diajak untuk merefleksikan pemahaman mereka terhadap energi tidak hanya sebagai entitas abstrak, tetapi juga sebagai fenomena nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan tantangan global.

Selain itu, artikel ini juga memiliki kedekatan dengan inquiry-based learning. Inquiry menekankan pada peran aktif siswa dalam bertanya, mengeksplorasi, dan menemukan konsep sains. Intervensi yang dilakukan mendorong guru untuk mulai mengarahkan pembelajaran ke arah eksploratif, meskipun belum sepenuhnya menerapkan struktur inquiry formal. Namun, artikel ini belum menyinggung integrasi model STEM maupun Project-Based Learning (PBL). Padahal, STEM dan PBL dapat memberikan dimensi baru bagi pembelajaran energi, yaitu penguatan keterampilan lintas-disiplin (sains, teknologi, rekayasa, matematika) dan keterlibatan siswa dalam proyek nyata yang berorientasi pada pemecahan masalah keberlanjutan.

Kajian pustaka tentang teori belajar ini memperjelas celah penelitian. Menurut Piaget dan Vygotsky, konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi dengan lingkungan dan orang lain. Inquiry-based learning (IBL) memperkuat konstruktivisme dengan memberikan kesempatan eksplorasi yang lebih sistematis. Sementara itu, STEM education merupakan integrasi multidisiplin yang menjembatani sains dengan teknologi, rekayasa, dan matematika untuk menghasilkan solusi nyata terhadap persoalan global, termasuk yang terkait SDGs. PBL kemudian hadir sebagai salah satu strategi implementasi STEM yang menekankan proyek konkret, kolaborasi, dan keterampilan abad 21. Dengan kata lain, meskipun artikel Malavoloneque & Costa sudah membuka arah konstruktivisme dan inquiry dalam pendidikan fisika yang berkelanjutan, peluang pengembangan melalui STEM dan PBL masih sangat besar.

Novelty artikel ini terletak pada pengenalan perspektif glocal—menghubungkan tantangan global energi dengan konteks lokal Angola—ke dalam pendidikan fisika calon guru. Kontribusinya penting karena menegaskan bahwa perubahan paradigma pendidikan guru merupakan titik awal transformasi kurikulum yang lebih berorientasi SDGs. Namun, keterbatasan metodologi dan tidak adanya pengukuran kuantitatif terhadap kompetensi siswa dalam ranah ESD (Education for Sustainable Development) membuat penelitian ini masih membuka ruang pengembangan.

Keterkaitan dengan SDGs terlihat jelas. Artikel ini menyokong SDG 4 (Quality Education) karena berusaha meningkatkan kualitas pengajaran fisika, SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui literasi energi terbarukan, dan SDG 13 (Climate Action) karena menanamkan kesadaran akan dampak penggunaan energi fosil terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, penelitian ini dapat dipandang sebagai langkah awal integrasi ESD dalam pendidikan fisika di negara berkembang, sekaligus membuka peluang untuk penelitian lanjutan yang lebih komprehensif.

 

Method

Gap

Result

Novelty

Studi kasus dan studi eksploratif dengan analisis dokumen, kuesioner, laporan guru, wawancara, serta FGD.

Pembelajaran fisika masih transmissive, minim integrasi SDGs, belum mengukur kompetensi ESD, tidak ada penerapan STEM atau PBL.

Guru dan siswa mulai menyadari pentingnya energi terbarukan; ada perubahan pada pendekatan guru.

Integrasi perspektif glocal dalam pendidikan fisika untuk membangun literasi energi berkelanjutan pada calon guru.

 

Artikel

Gap

Usulan Judul

SDGs Terkait

Physics Education and Sustainable Development: A Study of Energy in a Glocal Perspective in an Angolan Initial Teacher Education School (Malavoloneque & Costa, 2022)

Belum mengintegrasikan model STEM dan PBL; fokus hanya pada konstruktivisme dan inquiry; tidak ada pengukuran kuantitatif kompetensi siswa terkait ESD.

Integrasi Model PBL-STEM dalam Pembelajaran Energi Fisika untuk Meningkatkan Literasi Energi Terbarukan dan Perilaku Berkelanjutan Siswa SMA.

SDG 4 (Quality Education), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 13 (Climate Action)



Source :
https://www.frontiersin.org/journals/education/articles/10.3389/feduc.2021.639388/full


Comments

Popular posts from this blog

METOPEN- Validitas dan Realibilitas (review artikel ke-7)

METOPEN-Statistik 5

(review) artikel 1; Hakekat penelitian pendidikan: Peran penelitian pendidikan, isu-isu epistemologi dalam penelitian pendidikan: modernism (positivisme) dan posmodernism (post-positivisme)